
JAKARTA - Tim ekonomi kerakyatan pasangan capres dan cawapres Megawati-Prabowo menilai kualitas utang luar negeri Indonesia saat ini lebih rentan dibandingkan utang satu dekade lalu. Karena, sumber utang negara saat ini berasal dari pasar.
"Jumlah utang memang berkurang, tapi kualitas utang sekarang justru buruk. Dahulu, Indonesia berutang dari institusi seperti World Bank dan IMF (International Monetary Fund) sehingga lebih stabil. Sekarang kita berutang langsung dari pasar yang sangat fragile (rentan)," kata salah satu tim ahli ekonomi kerakyatan Mega-Prabowo, Widya Purnama di Media Centre Mega-Prabowo, Jalan Prapanca, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2009).
Dia mengatakan, kerentanan yang paling mengkhawatirkan dari sistem utang ke pasar adalah kreditur dapat menaik-turunkan suku bunga. Jika dinaikkan akan sangat menekan rakyat Indonesia.
Utang luar negeri Indonesia saat ini mencapai 32 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sebesar Rp1,6 triliun. Keadaan ekonomi juga diperparah dengan adanya kebocoran pada cadangan devisa (net outflow), karena adanya hot money.
Widya mengatakan, apabila cadangan devisa mencapai USD20 miliar per tahun. Maka separuh dari jumlah tersebut bisa dipakai untuk pembangunan. "Saya optimistis dalam lima tahun ada peningkatan 10 persen, dengan pertumbuhan tahunan dua persen," pungkasnya. (isi) (ade)







June 06 2009 18:51:25 ·
906 Hits
· 


Tamu Online: 2
Member Online: 0
Member Terbaru: